Thursday, May 14, 2015

AuliA

Alkisah kurang lebih 4 tahun yang lalu, terdamparlah daku di sebuah ibukota kabupaten Kecil yang jarak tempuhnya kalau dulu itu hanya 1,5 jam saja bila lancar, namun sekarang bisa jadi berjam-jam bila jalan tak lancar di Indralaya. (Wong Plembang mesti lah tau kenapo)

Kayuagung, Ibukota dari Kabupaten Ogan Komering Ilir. Tempat yang lumayan bersejarah dalam kehidupan singkat ku. Biasanya daku paling malas kalau mau bicara soal pekerjaan, tetapi malam ini marilah kemalasan itu disingkirkan sejenak dan berbagi sekelumit kisah hidup yang belum terlalu berarti.

Juni 2011, memulai babak baru kehidupan dengan bekerja sebagai operator dan administrasi di salah satu kantor konsultan pemberdayaan masyarakat di bidang air minum dan sanitasi pedesaan (baca : Pamsimas), mengharuskan diri ku menetap saat hari kerja (Senin s.d. Jum'at) karena kalau bolak-balik Palembang-Kayuagung akan memakan waktu, biaya dan tenaga aja.

Mau ngekos gaji pas-pasan, belum lagi memikirkan makan, minum serta kebutuhan pribadi lainnya. Jadi ditawarkanlah daku untuk tinggal di kantor yg kebetulan memang menyewa rumah salah satu warga di lorong Maison. Ga sendirian, 3 orang konsultan senior beserta 1 orang Office Boy (OB) turut serta tidur di kantor kala itu.

Karena 3 konsultan sering bolak-balik Plg - Kayuagung maka lebih sering menghabiskan waktu bersama Udin, sang OB yang nemenin tidur di kantor. Malah acapkali tidur sendirian karena Udin yang bernama lengkap Syamsudin dan kerja sambilannya ngojek ini rumahnya ga terlalu jauh dari kantor. Makin hari makin akrab lah dengan si Udin, ketertarikannya dengan dunia IThings semacam pintu masuk buat berbagi ilmu dengannya. Ga banyak yang dishare ke Udin, tp cukup banyak daku repotin dia selama masa kerjanya.

Singkat cerita si Udin resign duluan, alasan resign karena dapat tawaran kerja dari calon kakak iparnya di Prabumulih. Masih sering main ke kantor sesekali sekedar menyapa kabar. Terakhir sebelum daku resign pada 2012 akhir, dapet kabar udah balik lagi ke Kayuagung, ngojek dan alhamdulillah sudah menikah.

Berawal dari beberapa minggu yang lalu, karena masih berteman di facebook, iseng-iseng ngeliatin galeri foto di wall udin. Agak-agak terkejut pas liat foto anaknya yang dah gede, hampir 2 Tahun nampaknya. Namanya "Azhar Auliansyah", feeling langsung nebak-nebak pas liatnya.

Malam ini tanpa dinyana si Udin tetiba message di fb. Nanyain tentang sholat tahajud dan dhuha. Ya tak jelasin lah. Di akhir pembicaraan dia kirim foto kolase anaknya dengan caption namanya, kebetulan nih, langsung tak tanyain deh.

me : "Kenapa nama kk dipake din?"
Udin : Jawabnya, "dak tau nggapo.. waktu ibunyo hamil aku pengen ado namo kk Aulia nyo be.."
"heheheee biar pinter cak kk" lanjutnya lagi.

Jleb, kinda burden for me. Flatter n burdennya jadi satu. Semacam beban karena berharap sesuatu yang belum tentu benar. Tapi ya sudah lah, semoga "AuliA" yang digunakan itu sejatinya doa buat sang anak agar kelak jd Pemimpin, Orang Pintar, Cendikia ataupun Wali yang berguna bagi agamanya, kedua ortunya dan sampai negaranya. Aaaamiiinn...

Terima kasih Din buat sanjungan macam itu, terima kasih pula sudah sering direpotin di masa lalu. Terima kasih. :)

Wednesday, April 8, 2015

WIB, WITA dan WIT

Hehehe judul-judul post daku emang suka nyeleneh, tapi Insyaa Alloh selalu berhubunganlah dengan isi posting.

Just in case ada yang masih belum tahu :
WIB itu kepanjangan dari Waktu Indonesia bagian Barat
WITA itu kepanjangan dari Waktu Indonesia bagian TengAh
dan WIT itu kepanjangan dari Waktu Indonesia bagian Timur

Selisih perbedaan waktu masing-masing adalah 1 jam, misal Pontianak yang mewakili WIB pukul 7 pagi, maka di Bali yang mewakili WITA itu sudah pukul 8 pagi, sedangkan di Ternate yang mewakili WIT sudah jam 9 pagi.

Alhamdulillah selama berkantor di kantor yang sekarang ini sudah beroleh nikmat luar biasa, bisa menyempatkan diri singgah di kota-kota di atas. Walaupun embel-embelnya adalah perjalanan dinas tetapi nikmat Tuhan yang manakah lagi yang bisa daku dustakan? menginjakkan kaki di kota-kota tersebut saja tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Oke kesan dan pesan (halahhh...)

Pontianak, kota kecil (menurut daku ya ini) yang terkenal karena dilewati garis ekuator (titik 0 derajat) bumi ini. Saat itu awal tahun 2013, perjalanan pertama terjauh selama hidup. Bandaranya kecil tetapi padat, karena melayani juga penerbangan domestik ke samarinda dan sekitarnya. Menikmati kuliner berupa minuman khas terbuat dari aloe vera (nama latin dari lidah buaya) yang terasa segar. Namun tidak sempet menyicipi makanan khasnya. Titik 0 derajat tentu disinggahi, bahkan sempat berkunjung ke kota Singkawang yang terkenal dengan amoynya, karena banyak keturunan cina di sini.

Masih di tahun 2013, di pertengahan tahun berkesempatan mengunjungi Ternate, ibukota dari Provinsi Maluku Timur. Kota yang terkenal karena Gunung Gamalama yang beberapa waktu lalu sempat erupsi ini juga termasuk kota kecil, namun sungguh sangat eksotis. Karena dikelilingi pantai-pantai yang indah dipandang mata, pulau-pulau kecil bertebaran di sekitarnya. Ternate dan Tidore jaman dahulu terkenal akan peradaban budaya islam, sebagai jalan masuknya agama islam ke Indonesia melalu pedagang asing. Sempat menyicipi makanan yang terbuat dari sagu yakni pepeda dan dimakan bersama semamcam gulai ikan yang daku lupa namanya, lumayan unik karena seperti memakan lem kertas. Di kota ini pula sempat dibawa ke makam Sultan Mahmud Badarudin II, pahlawan asal Palembang yang diasingkan ke Ternate hingga akhir hayatnya.

Lanjut ke jelang akhir tahun 2014, ga dinyana banget ditugaskan ke Bali, destinasi wisata nomor 1 di Indonesia. Wah kalo cerita soal Bali sih bertebaran lah ya dimana-mana. Tapi dari sisi daku, Bali itu ga nyaman. Terlalu banyak aurat diumbar di sini. Namun tidak bisa dipungkiri juga, soal view Bali juara. Mata ini segar lihat tata kota yang bagus, pantai yang bersih nan biru, taman-taman yang tanamanannya benar-benar menyejukkan dipandang mata. Cuma sempet jalan ke Kuta di sela kesibukan acara, menyaksikan sunset yang masya Alloh cantik sekali. Kulinernya hanya sempet menyicipi nasi pedes saja, karena agak susah cari makanan halal di Bali.

Begitulah sekelumit cerita WIB, WITA dan WIT daku. Masih banyak destinasi yang belum dituju di tanah air ini. Masih banyak tempat yang belum dijejakkan kaki ini, someday, somehow and somewhat. Insyaa Alloh, aaaamiiinnn.... :)


ceritainibukanhoaxkarenagapakefoto,fotoakandiuploadbilamooddanfotofotonyaketemu
hehehehe.....

Thursday, April 2, 2015

Jogja, 3rd time visit, 2nd time meet you

Selamat tahun baru 2015 sob...!! Mesti lah sudah usang diucapkan pada awal bulan april ini :D
Maafkan, segala kesibukan dan mood swing membuat momen menulis terasa mahal.

Kembali mengisahkan perjalanan ke Jogja di awal tahun, kali ini bener-bener beruntung campur aduk rasanya. Hobi searching tiket penerbangan murah suatu hari menghasilkan keberuntungan, dapat tiket promo pulang pergi penerbangan singa merah dengan rate yang terjangkau tukang ketik ini, kurang lebih minus 25% an lah dari penerbangan yang bersaudara dengan kode swj itu. Tapi ternyata lagi-lagi singa merah mengecewakan, penerbangan yang seharusnya direct dari Palembang ke Jogja tidak terbang, sehingga dialihkan lah diriku ke penerbangan yang mesti transit di Jakarta. Untuk harga yang didapat, saya masih merasa beruntung lah saat ini, walau estimasi kedatangan jadi berubah pun ittenerary yang sudah dirancang sebelumnya.

Dijemput kamu itu rasanya tak terejawantahkan, melihat mu lagi setelah bulan sebelumnya bertemu menyenangkan hati. Kembali menyusuri jalanan Jogja ditemani miss maple suatu momen priceless. Walau ternyata beberapa hari ke depan cuaca di Jogja tidak mendukung ittenerary yang sudah disusun, mendung yang senantiasa menggelayut membuat rencana berubah total. Musnah harapan melihat sunrise or sunset di dua candi terkenal itu, atau pun mengunjungi rumah si mbah. Yah berkeliling sunmor memang tidak cukup, tetapi bisa menjadi subtitusi ittenerary yang berubah total. Asalkan bersama mu itu cukup R.